Oleh: Matt Rey Kartorejo


PENGALAMAN adalah guru yang kejam. Ia memberikan ujian dulu, baru pelajaran. Seperti pengalaman seorang laki-laki asal Kelurahan Lawangirung Komo Dalam, Kota Manado. Banyak ujian yang ia lalui.

Tahun 2007 silam, pria berdarah Bugis-Gorontalo ini datang ke Tanah Totabuan. Tujuannya menghadiri undangan pernikahan di desa Tutuyan. Ia diminta tuan rumah untuk mengisi acara dengan musik hadrah. Dalam satu grup hadrah ada sembilan orang, dia salah satunya.

Lelaki 43 tahun ini berkisah, waktu perjalanan dari Manado ke Tutuyan, ia tidak pernah mendapat kesempatan duduk. Dia terpaksa berdiri lantaran semua tempat duduk di bus yang ditumpanginya sudah terisi semua.

“Itu terjadi saat pergi dan pulang. Jadi saya berdiri terus, karena masing-masing tempat duduk yang sudah ada orang, sudah tidak bisa diganggu,” kata anak bungsu dari tujuh bersaudara ini.

Waktu menunjukkan pukul 02.00 Wita, lelaki pekerja keras ini masih bertutur. Selama satu minggu mereka berada di Tutuyan, sebab diminta tuan rumah. Namun, untuk mengisi acara hadrah, mereka lakukan hanya sehari.

Usai memeriahkan pesta pernikahan, ia dan teman-temannya kembali ke Manado dengan begitu riang. Mereka sangat bahagia sebab diberikan kesempatan mengisi acara dengan hadrah.

BERTEMU DENGAN PUJAAN HATI

Sekitar dua pekan usai menghadiri pesta pernikahan di desa Tutuyan, tanpa sengaja pria tinggi 165 cm ini bertemu dengan wanita asal Desa Bulawan Satu, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Kesan pertama mereka tercipta di RSUP Prof. dr. R. D. Kandou. Tidak sampai sebulan, mereka kemudian menjalin cinta.

Hanya berselang sebulan, lelaki tersebut memutuskan untuk menikah dengan wanita pilihannya itu. Tak berselang lama, akhirnya hubungan mereka berujung di pelaminan. Pernikahan pun dihelat di kelurahan Lawangirung Komo Dalam.

Baca Juga :   Guru Pertama SMAN 1 Kotabunan Berpulang, Alumni: Ibu Sri Sosok Luar Biasa

 

Usai menikah, pasangan suami istri ini tinggal dengan keluarga sekitar satu tahun lebih. Setelah itu, mereka pindah ke Tanah Totabuan paling Timur, tepatnya di desa Bulawan Satu.

“Abis kaweng, torang tingggal di Komo Dalam dengan keluarga. Sekitar satu tahun lebih, sampe maitua selesai melahirkan. Setelah itu, satu minggu kemudian, torang pindah ka Boltim,” ungkap lelaki yang memiliki pembawaan tenang dan cukup pendiam ini.

SUKA DUKA DI TANAH TOTABUAN

“Harus tetap optimis, suatu saat bismillah mu akan menjadi alhamdulillah.”

Memilih tinggal dan menetap di Tanah Totabuan, pria ini sangat yakin keluarga kecilnya akan hidup bahagia.
Awalnya mereka tinggal bersama kakak ipar selama satu minggu, kemudian pindah di sebuah warung sederhana. Ketika berada di desa Bulawan Satu, bapak satu anak ini mengaku sangat merasakan pahitnya hidup. Namun dengan keyakinannya, ia mampu melewati semua getir yang dirasakan.

“Pertama datang di Bulawan Satu, baru dapa rasa itu matahari kuning. Karena tidak ada tampa mengeluh.
Kita terus cari lowongan kerja. Kebetulan ada satu orang bapak, namanya Uwan Mandagi. Dia yang pertama kali ba pangge pa kita bakarja di tambang mas,” tuturnya.

Meski belum terbiasa melakoni pekerjaan barunya itu, tak menyurutkan niatnya. Ia tetap bertahan dan mampu masuk di dalam lubang kedalaman ratusan meter. Sekira empat hari bekerja, ia mulai  terbiasa. Menurutnya, apapun konsekwensinya, akan ia hadapi demi cita-cita dan keinginan membanggakan keluarga kecilnya.

Akhirnya keluh kesahnya terganti dengan pencapaian-pencapaian yang indah. “Saya senang karena dapat pengalaman soal kerja tambang,” ucapnya.

ALIH PROFESI

Sekira tiga bulan bekerja di tambang emas, pria ini kemudian berhenti dan memilih bekerja menjadi tukang bangunan di desa Tutuyan. Lima bulan ia habiskan waktunya kerja bangunan, ia merasa tidak lagi terbebani sebab sudah ada pemasukan setiap minggunya.

Baca Juga :   Hujan Mengantarku Melihat Sampah di Resting Area

Tak lama kerja jadi kuli bangunan, ia kemudian berhenti dan melamar di perusahaan tambang emas pada tahun 2011. Berkas yang jadi persyaratan di perusahaan, ia siapkan.

Akhirnya asa seorang laki-laki ini berbuah manis. Hanya selang sepekan, ia dapat panggilan untuk mengikuti traning selama tiga hari.

Menjalani pekerjaan di perusahaan tambang emas, pria ini mulai betah.
Di wilayah Kotabunan ia bertahan selama tujuh bulan, kemudian pindah ke wilayah Lanut sekitar dua bulan. Di Bakan dua bulan, dan balik lagi ke Kotabunan selama dua tahun kerja di PT Sumagud.

“Hasil kerja dari perusahan, alhamdulillah saya dapat membangun rumah sederhana,” ungkapnya.

“Waktu itu kontrak kerja di PT Sumagud selesai, saya bekerja sebagai sopir mengangkut material bangunan. Itu saya lakukan bertahun-tahun. Selain itu saya juga berbisnis arang. Kalau panen raya, saya beli cengkeh sebagai kerja sampingan,” tutur pria asal kota Manado ini.

DESA BULAWAN JADI TEMPAT TINGGAL SELAMANYA

“Orang Kotabunan bilang, kalu so dapa minum aer Limbuong, so lupa mo pulang kampung.”

Meski hanya sebuah lelucon, namun pada kenyataannya benar. Banyak yang dari luar daerah jika sudah bergaul dengan orang Kotabunan, dan sudah pernah mencicipi air Limbuong, mereka sudah lupa pulang kampung halaman.

Seperti pengalaman pria kelahiran 22 Maret 1979 ini. Saat menginjakkan kaki di Negeri Para Bogani, ia sudah tidak ada niat untuk kembali ke tanah kelahirannya. Ia mengaku betah tinggal di desa Bulawan Satu.

“Sekarang saya sudah tidak ada niat lagi pindah ke Manado. Saya memutuskan untuk tinggal selama-lamanya di desa Bulawan Satu,” ucapnya.

TERTARIK DENGAN DUNIA JURNALIS

Semua pekerjaan sudah dilakoni. Mulai dari kerja di tambang emas, perusahaan tambang, kuli bangunan, kemudian menjadi sopir. Kisah itu belum berujung. Pria ini ternyata sangat tertarik dengan dunia jurnalistik.

Baca Juga :   Kisah Pohon di Desa Bulawan Yang Bikin Merinding

Awalnya ia bekerja sebagai loper koran di Kotamobagu. Dari situ, hasrat menjadi penulis kian menggebu. Ia kemudian mencari tahu bagaimana menjadi seorang penulis. Ia bertanya kepada seorang lelaki asal Desa Bulawan untuk memenuhi keinginannya. Akhirnya, impiannya itu menjadi kenyataan. Ia bergabung dan menjadi bagian dari Komunitas Momais, komunitas penulis di Bolaang Mongondow Timur. Di sana, ia diberikan pemahaman tentang dunia jurnalistik, dan kemudian ia dipercayakan menjadi wartawan di salah satu media online.

Saat menjadi seorang jurnalis, ia begitu enerjik. Keberanian mewawancarai narasumber sangat jelas. Bahkan ketika ada penugasan-penugasan dari pimpinan, ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Data dan informasi yang akurat ia dapatkan. Hal ini menjadi perhatian tersendiri dari pimpinannya. Sekarang ia kerja di salah satu media online, Biro Boltim.

“Dari dulu saya sangat suka menjadi wartawan, dan alhamdulillah apa yang saya cita-citakan sudah tercapai. Sekarang saya sudah merasa nyaman tinggal di Boltim. Dan akan selamanya tinggal di Boltim,” sebut pria bernama lengkap Rinto Lakoro ini. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here