Catatan Akhir Tahun

Oleh:  Matt Rey Kartorejo


Jumat, 31 Desember 2021, pukul 21.00 Wita, cuaca di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur begitu cerah. Teman-teman Komunitas Momais (Menulis) asik duduk di kursi plastik menantikan detik-detik spesial. Tahun 2021 yang penuh kenangan dan kebahagiaan serta pelajaran hidup tak terasa tinggal beberapa jam akan berganti.

Kami duduk sambil menikmati kue tahun baru yang dipesan anakku, Irenne. Di atas meja kecil, hidangan ayam kampung ‘rampa-rampa bebe’ ikut tersaji.

Usai mencicipi hidangan alakadarnya, penasehat ‘Momais’ menyumbangkan beberapa buah lagu. Sosok ‘penuh kejutan’ ini biasa disapa Paman Utung. Ia menyanyi dengan rasa, sehingga teman-teman serta tamu yang datang begitu menikmati suara emas Paman Utung.

Kue Tahun Baru

Satu jam kami lalui dengan bernyanyi. Kami bergantian. Mic sedikit tertahan di tangan Risma Dama dan Vira Firdaus Pahude. Sepertinya mereka sudah tidak mau mengembalikan mic yang dipegang. Maklum perempuan-perempuan ini sulit ditaklukkan.

DETIK-DETIK PERGANTIAN TAHUN

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.30 Wita, suasana bagian belakang rumahku kian meriah. Orang-orang yang menunggu pergantian tahun sepertinya sudah tidak sabar. Mereka duduk di plat deker. Ada juga yang duduk di seputaran lokasi pekuburan umum.

Anak-anak usia tujuh sampai delapan tahun masih lalu lalang. Sepertinya mereka tak mau ketinggalan momen pergantian tahun.

Paman Utung, sedang asik melantunkan lagu bertajuk ‘Kehilangan’. Lagu bernuansa dangdut ciptaan Roma Irama itu, ia bawakan dengan perasaan.

Tak lama kemudian, waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Malam pergantian tahun 2021-2022 kami sambut dengan penuh sukacita.

Foto: Penasehat Komunitas Momais Paman Utung saat menyanyikan lagu berjudul ‘Kehilangan’.

Beragam asa serta keputusan terucap dari bibir teman-teman komunitas.
Harapan-harapan itu jadi target pencapaian di tahun 2022. Sedih, gembira, susah senang menjadi satu, dengan harapan semoga dapat terwujud segala impian di tahun baru ini.

Baca Juga :   Kisah Pohon di Desa Bulawan Yang Bikin Merinding

“Selamat Tahun Baru, semoga apa yang diimpikan akan tercapai,” ucap Risma Dama.

Mendengar ucapan itu, kami kemudian berdiri dan saling berjabat tangan.

INDAHNYA LANGIT DESA BULAWAN

Tahun baru telah ditapaki. Riuh-ramai penuh kegembiraan begitu terasa.

Keramaian di Desa Bulawan pun hangat dalam waktu yang lama. Langit terlihat begitu indah. Deru petasan berukuran jumbo berselang-seling, membuat suasana di sekitaran Dusun 3 Bulawan kian ramai.

Foto: Tampak, langit di Desa Bulawan, Kecamatan Kotabunan terlihat indah.

Misel, anakku memintaku menemaninya melihat pemandangan langit. Ia begitu senang menyaksikan keindahan di depan mata.

“Pe rame kang, Pa’,” ujar Misel, sembari memasang petasannya.

Misel Kartorejo

DITEMANI MOUUZA DAN MICCY

Jam sudah menunjukkan pukul 02.20 Wita. Mouuza dan Miccy, kucing manis peliharaanku masih terjaga. Kucing berwarna hitam putih itu masih menemani kami. Sepertinya mereka menunggu sisa makanan yang kami nikmati barusan.

Aku menatapi dua ekor kucing itu. Melihat ekspresi Moouza dan Miccy, aku tak tahan. Mereka sepertinya sudah lapar.

Aku kemudian memberikan sisa makanan. Kucing-kucing itu pun makan dengan begitu lahap.

Foto: Moouza dan Miccy, kucing manis milik Mat Rey Kartorejo.

Tahun baru ini kembali mengingatkan ku. Selain keluarga, teman, ada tanggung jawab yang harus tetap dilakukan untuk masyarakat. Termasuk bagi mahluk hidup lain di sekitar kita.

DOA DI TAHUN BARU

Asa dan doa terucap dari bibir teman-teman Komunitas Momais. Tahun baru 2022 menjadi target awal yang segar untuk segala hal positif. Dengan harapan, hal-hal positif akan terus terpancar untuk orang-orang sekitar, teman, serta keluarga.

“Semoga di tahun baru ini, kita semua selalu diberikan kesehatan, kesempatan, serta umur panjang,” ucap Sunadio Jubair.

“Dan semoga apa yang kita lakukan di tahun ini, akan bermanfaat bagi teman-teman kita, saudara kita, serta orang-orang sekitar kita, Amin,” sambung Dio.

Baca Juga :   Menguak Misteri Teluk Ponaguan dan Pulau Bantong di Timur Totabuan

BERTAHAN SAMPAI PUKUL EMPAT PAGI

Doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, selesai dipanjatkan. Delapan kursi plastik masih terisi. Suara musik bukan dikecilkan, tapi volumenya dinaikkan.

Maklum ‘satu tahun satu kali’. Pukul 03.00 Wita, teman seprofesi datang menemui ku. Aku mempersilahkan duduk kepada Gunawan Mamonto. Kami kemudian berbincang tentang peristiwa dugaan penganiayaan yang terjadi kepada mantan Bupati Boltim, Sehan Landjar.

Selang beberapa menit, perbincangan beralih ke persiapan uji kompetensi wartawan (UKW) yang akan digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Boltim pada tanggal 23 Januari 2022.

Di bangku panjang terbuat dari bambu, para kaum hawa juga asik berbincang sambil terkeke-keke. Dan akhirnya, pada pukul empat pagi, kami beranjak dari tempat duduk masing-masing.

Teman-teman komunitas pamitan dan pulang ke rumah masing-masing, sementara aku bertahan sejenak merapikan tempat duduk dan sound sistem yang dipakai pada malam itu. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here