Almarhum Yono Hidayat

Oleh: Matt Rey Kartorejo

Lia-lia akang pa Yono. Bekeng dia sama deng ngana pe anak sandiri. Bagimana ngana pe sayang pa Mat, bagitu lagi bekeng akang pa Yono.”

Pesan ini disampaikan mendiang Nenek Yono, kepada papa saya pada masa silam.

Waktu aku masih duduk di bangku SMP, pria bernama lengkap Hariyono Hidayat, sudah tinggal bersama dengan ku. Ia sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Kedua orang tuaku memperlakukannya seperti anak sendiri. Terkadang ibu dan ayah saya kerap memarahinya, hanya demi kebaikannya.

Ia memangil ayah ku dengan sebutan ‘Papa’. Begitu juga ibu saya ia sudah anggap orang tuanya. Ia menyapa ibu saya dengan sebutan ‘Mama’.

Waktu sekolah di SMA Negeri 1 Kotamobagu, jarak mulai memisahkan aku dan Yono. Ia kemudian diajak papa ku belajar bekerja di wilayah pertambangan emas. Di lokasi Panang dan Benteng. Bahkan ketika ada lokasi tambang yang gempar, kakak laki-laki saya sering mengajaknya bekerja di lokasi tambang yang cepat mendapatkan hasil yang memuaskan.

Sebelumnya, Yono belum terbiasa dengan kerja tambang. Seiring berjalannya waktu, ia mulai terbiasa. Hingga akhirnya ia boleh menguasai teknik di tambang emas. Bahkan ia sampai bekerja tambang di daerah Maluku Tenggara dan Ambon. Pernah dia sebagai kepala ‘rambangan’, memimpin sekelompok penambang.

PEKERJA KERAS DAN MANDIRI

Onong, begitulah aku menyapa Yono Hidayat. Menurutku, sapaan itu merupakan sapaan yang sangat halus. Aku sangat menyayanginya.

Dulu, ketika Onong lagi ‘pica kongsi’, menikmati banyak uang di tambang, ia selalu memberiku uang saku dengan jumlah yang sangat memuaskan. Tak pernah menghitung apa yang diberikannya kepadaku.

Onong pernah berpesan kepadaku waktu sekolah di SMA Negeri 1 Kotamobagu. “Ngana skolah trus. Kalu kita ada doi, nanti kita mo jaga kirim. Tapi ngana jangan brenti skolah.”

Baca Juga :   Sampah Disepanjang Ruas Jalan Kotabunan Selatan - Paret

Pesan Almarhum Yono ini masih jelas dalam memoriku. Mungkin ia mau, aku bisa menjadi orang yang sukses.

HUMORIS DAN PENYAYANG

Yono merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara. Buah hati pasangan H. Hidayat (Almarhum) dan Ros Mokodompit ini, meski kelihatan begitu sangar, tapi ia adalah orang yang humoris dan penyayang.

Dulu, saat aku dan Almarhum Yono sedang berada di rumah, ia sering bercerita yang menggelikan hati. Kala itu, kita tertawa bersama dan aku tidak dapat menahan cerita jenaka yang terlontar dari bibirnya.

Begitu juga ketika aku mulai bercerita lucu, ia terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata. Almarhum papaku ketika melihat aku dan Yono tertawa, ia hanya tersenyum dan berkata, “Apa lagi ini ngoni dua mo bekeng ini.”

Almarhum papaku sangat senang melihat keakraban aku dan Yono.

Dulu, pada saat ibu atau ayah menyuruhku mengantar bahan-bahan sembako ke kebun dan kemudian Almarhum Yono mendengar, ia langsung mengatakan kalau dirinyalah yang akan mengantar barang itu.

“Biar jo Ma, nanti kita yang antar. Kasiang dia nda mampu mo ka kobong.”

Ia begitu sayang kepadaku. Sifat kasih sayangnya itu yang tak dapat aku lupakan.

CURHAT ALMARHUM YONO SEBELUM MENINGGAL DUNIA

Pukul 11.00 Wita, aku tengah duduk di dapur rumah. Menatap tower provider di atas gunung. Almarhum Yono kebetulan lewat di lorong belakang rumahku. Aku memanggilnya dan kami duduk di dapur sambil menikmati dua cangkir kopi hitam.

“Nong, saki ngana? soalnya ngana dapalia so turun badan.”

Pertanyaanku itu spontan ia jawab.

“Iyo, kita saki. So lama kita pe saki ini mar kita nda badiang akang,” ujarnya.

Baca Juga :   Rindu Takbir di Ujung Lailatul Qadar

Aku terus menggali informasi tentang penyakit yang dideritanya. “Saki apa ngana? Bilang jo nda usah sambunyi. Tong dua ini sama deng kaka ade,” tanyaku.

Akhirnya ia mengaku jika dirinya sudah tidak bisa lagi kerja keras seperti dulu. Kata dia, jika ia harus bekerja keras lagi, penyakitnya akan kambuh.

Almarhum Yono kemudian bertutur bahwa hanya ada dua jenis obat yang ketika ia minum, akan terasa sedikit lega dan merasa sehat.

Mendengar pengakuannya, aku beranjak dari tempat duduk membeli obat yang ia katakan. Tak berselang lama, obat yang ku beli langsung diberikan kepadanya. Aku melihat dia begitu senang. “Jaga nape kesehatan, Nong. Jaga ba istirahat.”

“Iyo-iyo,” jawabnya.

Usai berbincang denganku, ia langsung beranjak pulang ke rumah kakaknya di Desa Bulawan Satu.

Tiga hari berlalu, Yono sudah tak lagi kelihatan. Biasanya ia sering berada di rumah teman-temannya di Desa Bulawan, tapi sosok pria yang sangat baik ini sudah tidak pernah nampak.

“Cring, cring, cring…” Hand phone ku berdering. Kulihat ternyata Rully, teman saya dari Maasing yang menelepon.

“Sudara, lia akang kasana pa Yono kasiang. So saki dia. Dia ada di rumah di pante, pa depe kaka,” kata Rully.

“Iyo sudara, kita somo ka sana ini.”

Aku langsung bergegas ke rumah Enri, kakak Yono.

Aku dan istriku berboncengan di sepeda motor Fino warna coklat. Dio Djubair dan Jumadi Bawenti mengikuti kami dari belakang dengan sepeda motor milik Jumadi. Sesampainya di rumah, aku langsung melihat Yono di kamar. Mendengar suaraku, ia bangun dari tidurnya dan duduk menatapku.

“Tidor jo nda usah duduk dari ada saki ngana,” kataku.

Baca Juga :   Andriansa: Kebahagian Itu Milik Orang-Orang yang Bersyukur
Almarhum Yono Hidayat

Ia kemudian kembali berbaring. Aku memberikan obat yang sering ia minum. Sepertinya ia sangat susah untuk menelan obat yang kuberi. Aku membantu memegang tangannya agar obat bisa diminum. Setelah obat berhasil diminum, aku memberikan motivasi kepadanya.

“Kase kuat tu hati, masih mo umur panjang ngana. Nda usah ba pikir apa-apa, pikir jo dulu nape kesehatan,” ucapku.

Mendengar ucapanku itu, ia hanya menatapku, tanpa ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya. Selang beberapa jam, akhirnya aku pamit.

Besok harinya, kondisinya lebih parah. Ia dilarikan ke Puskesmas Kotabunan. Aku kemudian mendatangi Puskesmas.

Di sana, ia mendapat penanganan medis. Aku mendekatinya dan membantunya untuk buang air kecil. Tak lama, aku dan Dio kembali ke rumah, sebab ia sudah ditangani tenaga medis Puskesmas.

Jumat, 24 Desember 2021, sekitar pukul 12.00 Wita, Yono Hidayat menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ia meninggal dunia di usia 41 tahun.

Mendengar berita duka itu, aku kaget seakan tak percaya apa yang didengar barusan.

Ternyata benar. Orang yang aku anggap saudara sendiri, sosok yang begitu baik, telah dipanggil Sang Khalik. Semoga amal ibadah Almarhum Yono Hidayat akan diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Ya Allah, ampunilah saudara ku, kasianilah dia, sejahterakanlah dia dan ampunilah segala dosa dan kesalahannya. Ya, Allah Yang Maha penyayang, ampunilah saudara ku Yono Hidayat dan berilah rahmat kepadanya. Selamatkan ia dari beberapa hal yang ia tidak sukai di alam sana. Amin.” (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here