Cliffery Utiarachman (Cip)

Oleh: Matt Rey Kartorejo


Banyak yang tercengang kepada Cliffery Utiarachman (21). Pria asal Desa Kotabunan Barat, Kecamatan Kotabunan ini, saat berangkat ke Kota Manado, ia tempuh hanya dengan waktu satu jam dua menit. Aksi gila ini membuat teman-temannya banyak yang bertanya-tanya dan bergeleng-geleng kepala.

Pada pukul 23.30. Wita, di dapur sederhana, tepatnya di Desa Bulawan, Kecamatan Kotabunan, pria yang akrab disapa Cip ini bercerita tentang perjalanannya ke Manado. Ia menuturkan, pada pukul 24.02 Wita, ia mengambil tas punggung lalu pergi ke kota Nyiur Melambai dengan menunggangi sepeda motor matic jenis Honda Vario miliknya.

Entah apa yang ia pikirkan, tiba-tiba malam itu ia harus buru-buru berangkat pada malam hari.

Seperti biasanya, jarak Desa Kotabunan-Manado, ditempuh di atas dua jam, tapi tidak dengan Cip. Pemuda berdarah Hulondalo ini nekat mengendara dengan kecepatan di atas rata-rata. Hanya butuh waktu satu jam dua menit, Cip sampai di tempat tujuan.

“Kita star dari Kotabunan jam dua belas lewat dua menit, kita sampe di Manado jam satu lewat empat menit,” kata Cip, dengan logat kental Manado.

Beberapa teman yang berada di sampingnya sedikit heran. Bahkan tidak percaya. Tapi, percaya atau tidak, kenyataannya begitu.

Saat mengendarai motor maticnya, Cip tidak lagi melihat revolutions per minute (rpm). Ia hanya fokus di rute yang ia lalui. Pukul 01.04 Wita, pemuda kelahiran 4 Mei 2000 ini mampu menembus dinginnya malam. Dia tiba di Manado, tepatnya di depan Transmart ara ke daerah Paniki.

“Saya sudah tidak melihat rpm, karena saya pergi ada beban pikiran. Pukul satu lewat empat menit, saya sampai di Transmart ara ke Paniki,” tutur pemuda asal Bolaang Mongondow Timur ini.

Baca Juga :   Suksesi kepemimpinan SULUT Dan Dimensi 3 Pilar Politik KeMongondowan

Cip mengaku, alasan ia pergi malam itu, lantaran ada sedikit masalah keluarga. “Waktu itu ajus deng sebe ada marah kong kita bajalang itu. Kita trus di rumah pa kita pe sudara di Jati,” ujar Cip.

CITA-CITA JADI PEMBALAP

Dari kecil, Cip punya cita-cita jadi pembalap. Bakatnya pun sudah terlihat. Walau belum sempurna, ia tetap berusaha belajar agar mimpinya menjadi nyata. Baginya, menjadi seorang pembalap adalah segalanya.

Cita-cita Cip itu, terpaksa ia kubur dalam-dalam lantaran tak direstui ibunya. Sebagai anak yang penurut, ia terpaksa memendam mimpinya.

Seperti kata pepatah, “Walapun kamu dapat memberikan bintang, berjuta harta, namun itu semua belum cukup untuk membalas kasih cinta seorang ibu.” kata-kata ini yang membuat ia mengikuti kemauan ibunya.

“Memang saya suka skali jadi pembalap, tapi orang tua tidak izinkan.
Pernah kita ba bilang pa papa. Kita bilang, pak, kita mo iko event, waktu itu ada event di Boltim, tapi mama nda kase. Disitu kita pata hati,” ungkap Mahasiswa Universitas Manado (Unima) ini.

Cip Utiarachman

Cip yang gemar naik motor, ingin performa lebih mantap dan kendaraan lebih cepat. Ia mengaku sangat menginginkan sepeda motor
cc (cubical centimeter)
tinggi. Menurutnya sepeda motor ccnya di atas, sangat cocok buat dia. Tapi lagi-lagi orang tuanya enggan memberikan apa yang Cip inginkan.

“Mungkin lantaran papa sayang pa kita, deng nimau mo ambe resiko, sehingga sampe dunia sekarang papa nda suka mo ambe akang motor Ninja,” tutur Cip cecikikkan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here