Foto: Panorama laut di Pantai Literasi Molobog, Kecamatan Motongkad, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

Penulis: Matt Rey Kartorejo


Mobil Toyota Avanza DM 1186 BY berwarna silver, sudah menjadi langganan ketika kami mencari data dan informasi yang akan disajikan ke publik. Selasa, 14 September 2021, mobil milik Mikdat Ligawa itu, membawa kami ke salah satu destinasi wisata yang ada di Kecamatan Motongkad.

Pantai Literasi Molobog, nama tempat itu dikenal. Pesisir ini tak kalah indahnya dengan destinasi wisata lainnya yang terdapat di Tanah Totabuan paling Timur.

Pukul 14.00 Wita, kami bergerak ke Kecamatan Motongkad. Kami bergegas, sebab ada kegiatan pemerintah daerah yang akan digelar di pesisir desa Molobog.

Foto: Mobil Avanza milik Mikdat Ligawa.

Andri Mohama, salah satu jurnalis  mengambil alih kemudi mobil. Mikdat duduk di sampingnya. Sementara aku, Gazali dan Dio Djubair di bangku kedua. Gafur Sarundayang berada di kursi belakang.

Kala itu, terik matahari begitu menyengat. Sepanjang perkampungan yang kami lewati, terlihat orang-orang duduk di bawah pohon. Mereka sepertinya sedang menikmati oksigen yang dipancarkan sederet pohon di sisi jalan.

Dalam perjalanan menuju Pantai Literasi, kami terus bercanda. Musik rock milik Guns N’ Roses bertajuk ‘Sweet Child O’ Mine’ membuat kami lebih  bersemangat.

“Belok kiri, Tat.” (belok kiri saudara).

Tak banyak tanya, Andri mendengar ucapanku. Di simpang tiga Desa Dodap, Kecamatan Motongkad, Andri memutarkan mobil ke kiri.

Kami bermaksud mampir ke rumah salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Boltim. Tapi saat disambangi, ia tak berada di tempat.

“Ko Kevin ada?” tanyaku.

Pertanyaan itu dijawab oleh salah seorang perempuan.

“Ko’ ada di pante.”

Mendengar jawaban itu, tak berselang lama, kami beranjak melanjutkan perjalanan menuju Desa Molobog. Mobil lewat jalan belakang perkampungan.

Baca Juga :   Kampung Tangguh Nusantara Kecamatan Tutuyan Diresmikan

Aku sedikit heran karena rute yang kami lalui belum pernah kulihat. Ternyata jalan yang kami lalui itu ada tembusannya ke jalan trans Sulawesi.

DITEROR GONGGONGAN ANJING

Desa Motongkad baru dilalui. Itu tanda Pantai Literasi Desa Molobog yang jadi tujuan kami, tidak lama lagi akan terlihat.

Di perjalanan, kami berhenti sejenak dan mengambil foto. Sekitar dua menit mengambil dokumentasi, kami kembali naik ke mobil dan melanjutkan perjalanan.

Memasuki Desa Molobog, ada sebuah warung. Andri menghentikan mobil, aku kemudian turun dengan maksud membeli rokok.

Gazali yang tepat berada di sampingku, ikut keluar dari mobil dengan tujuan yang sama. Cepat-cepat Dio Djubair bergerak turun dari mobil, namun ia masuk lagi.

Niatnya untuk beli rokok ia urungkan. Ia kaget dengan suara gonggongan anjing. Sepertinya Dio fobia dengan hewan domestik yang tergolong karnivora itu.

“Ah, biar jo. Biar nda baroko. (Biar saja aku tidak merokok). Ada anjing sana,” ujar Dio dengan penuh cemas.

Gazali tak menghiraukan gonggongan anjing itu. Ia terus menuju warung sederhana dan aku mengikutinya dari belakang.

Melihat kami terus berjalan, Dio yang tadinya takut dengan suara anjing, akhirnya memberanikan diri dan ikut bersama.

“Guk guk guk.”

Anjing milik seorang ibu itu terus menyalak. Sepertinya ini sinyal agar kita menjauh. Si pemilik warung kemudian mengusir hewan piaraannya itu yang tepat berada di depan warung. Setelah anjing pergi, kami membeli rokok dan sejumlah air mineral.

“Beli rokok, Bu.”

Sambil melayani, ibu itu melontarkan sejumlah pertanyaan. Kami menjawab apa adanya.

Ia kemudian memberikan empat bungkus rokok dan enam botol air mineral. Perjalanan pun kami dilanjutkan.

Baca Juga :   KPU Boltim Tunda Jadwal Pelantikan PPS

PANTAI LITERASI MEMIKAT

Pukul 15.20 Wita, mobil yang kami tumpangi tiba di Pantai Literasi Molobog. Keindahan tempat itu sangat jelas terlihat di balik kaca mobil. Kami tak tahan menyaksikan langsung panorama alam yang begitu memukau.

Andri memarkirkan mobil di sisi kiri jalan yang menghadap langsung dengan laut. Kami pun turun dari mobil dan mulai menikmati suasana. Mengambil kamera dan menjepret semua yang ada di depan mata.

Gafur Sarundayang yang punya keahlian dalam dunia fotografer, tampak serius mengambil dokumentasi. Mikdat dan Dio berfoto ria di sisi tanjung yang menghadap langsung dengan laut lepas.

Tiga puluh menit waktu berlalu. Rasanya kami tidak mau meninggalkan momen itu. Mikdat begitu terpikat dengan fenomena yang baru saja ia lihat. Begitu juga Andri.

Aku dan Gazali sebenarnya hanya mengambil momen indah itu dari dalam mobil. Sedikit penasaran, Gazali akhirnya turun dari mobil dan ikut berfoto ria.

Setelah mengambil setumpuk dokumentasi, sedikit bercanda, kami kemudian masuk ke mobil. Kembali bergerak, menuju tempat kegiatan yang digelar oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Boltim. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here