Foto: Pulau Dondang di Desa Kotabunan Selatan, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Oleh: Matt Rey Kartoredjo


Buaya Dondang, reptil bertubuh kecil yang hidup di perairan Luak. Banyak cerita masyarakat tentang hewan ini. Kisah-kisah mistis ikut membalut.

Desa Kotabunan Selatan (Kotsel), Kecamatan Kotabunan, punya Danau Luak. Di situ ada pulau kecil berbatu. Masyarakat menyebutnya Pulau Dondang.

Di sekeliling Pulau Dondang, terdapat pohon bakau. Ada juga rumput-rumput liar yang menghiasinya. Jika air surut, pulau ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun apabila air laut pasang, bagi yang ingin melihat dari dekat Pulau Dondang, harus menggunakan perahu.

Foto: Pohon bakau yang terdapat di sekeliling Pulau Dondang.

Menurut penuturan tokoh masyarakat setempat, Sutumo Tooy (61), pulau kecil tersebut dinamakan Pulau Dondang, lantaran ada buaya penunggu yang namanya Dondang. Buaya itu memakai salendang merah dan berukuran pendek serta tidak memiliki buntut (pokol).

Hewan reptil yang hidup di danau Luak Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ini, tidak agresif seperti buaya pada umumnya. Kalau tidak diusik, ia tidak mengganggu nelayan yang mencari ikan di Danau Luak.

“Asalkan dia tidak diganggu, buaya dondang tidak mengganggu orang. Yang penting bicara-bicara akang pa dia, dia nda mo ba nakal,” kata Sutomo Tooy dengan logat kental Manado, saat berbincang-bincang di Kantor Desa Kotsel, belum lama ini.

Konon, di Lokasi Pulau Dondang tidak boleh ada suara-suara riuh. Sebab ada hal-hal aneh yang akan terjadi.

Foto: Danau Luak, Desa Kotabunan Selatan, Kabupaten Boltim.

Di lokasi Pulau Dondang nimboleh baribut,” tutur pria kelahiran 10 November 1961 ini.

MISTERI PULAU DONDANG

Setiap daerah ada hal-hal yang menjadi kebiasaan dan harus dipercaya. Jika tidak, hal-hal aneh akan terjadi.

Tahun 70-an, ada seorang lelaki yang hilang di lokasi Pulau Dondang. Arsadi Imango nama lelaki itu. Pria 65 tahun ini awalnya tidak percaya dengan cerita mistis tersebut. Tiba-tiba ia hilang di lokasi Pulau Dondang. Sehari kemudian ia ditemukan warga setempat.

Baca Juga :   Komunitas Mapatik dan Kunjungan Yang Tertundah

Satu malam kita ilang. Kita sadar so pagi ada di lokasi Pulau Dondang. Awalnya kita nda percaya,” ucap Arsadi Imango.

Foto: Arsadi Imango warga Desa Bulawan, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mkngondow Timur (Boltim).

Arsadi sedikit menjelaskan tentang penunggu yang ada di Lokasi Pulau Dondang. “Dulu kalau bulan terang ada yang berjalan pake tolu, so dorang itu (penunggu di lokasi Pulau Dondang),” jelasnya.

Warga Desa Bulawan, Kecamatan Kotabunan ini menuturkan, pada waktu itu tidak boleh buang air besar di pinggir pantai, sebab penunggu sering lewat di bibir pantai.

Kalau dulu nimboleh mo berak di pinggir pante, karna dorang pe tampa lewat di sei pante kompleks kalapa dua,” sebut Arsadi.

TEMPAT FAVORIT PARA NELAYAN

Publik Kotabunan Bersatu sudah tak asing mendengar nama Kelapa Dua. Dinamakan Kelapa Dua, lantaran ada dua pohon kelapa yang hidup berdampingan. Lokasinya tak jauh dari bibir pantai.

Foto: Lokasi Kelapa Dua di Desa Kotabunan Selatan, Boltim.

Kelapa Dua terdapat di Desa Kotabunan Selatan. Di sana, para nelayan setiap hari membanjiri lokasi tersebut. Ada yang mencari ikan memakai perahu, ada yang mencari ikan bandeng di pesisir.

Kalapa dua itu kalau torang mangael itu jadi nonako. Jadi kalau ada yang bertanya, mangael di mana, torang ja bilang, mangael di muka kalapa dua.
Dulu di situ tampa ba bandeng. Bandeng di situ luar biasa. Dan kemudian di situ tempat mangael ikan batu. Pokoknya macam-macam ikang,” kata Sutomo.

BATU GOSO DAN KAYU BESI JADI TEMPAT IKAN

Asik berbincang di Kantor Desa Kotabunan Selatan, Kepala Seksi Pemerintahan, Sutomo Tooy, menceritakan tentang batu besar yang jadi lokasi favorit para nelayan. Tepat di depan Kelapa Dua, batu besar itu jadi tempat ikan. Para nelayan kerap terlihat di lokasi tersebut.

Baca Juga :   Pemimpin Kolaboratif Pilihan Cerdas Kebangkitan Sulut

Batu besar di depan Kelapa Dua, itu perkiraan tahun 1973. Waktu itu ada dua skoter yang muat batu goso (batu asah), kemudian dorang buang di situ (depan Kelapa Dua). Baru ada lagi kayu besi yang dibuang di situ, sehingga jadi tampa ikang di situ,” ungkap Sutomo.

KELAPA DUA, MUSIM IKAN BANDENG DAN INSIDEN TAHUN 80-AN

Lokasi Kelapa Dua pada waktu itu, sangat terkenal. Ikan bandeng yang kerap bermain di lokasi tersebut membuat para penangkap bibit ikan ini tak bisa meninggalkan lokasi Kelapa Dua. Di sana, bukan hanya masyarakat Kotabunan yang terlihat, namun banyak yang dari Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) mendatangi lokasi tersebut.

Kalau kami menangkap ikan di daerah Kelapa Dua, itu saat waktu sore. Itu kan bandeng sandar. Sehingga Itu yang bekeng top Kelapa Dua pada waktu itu.
Yang batangka bandeng bukang cuman orang Kotabunan, tapi banyak yang dari Belang,” ungkap Sutomo.

Sudah sekitar satu jam berlalu, Sutomo terus berkisah. Ia menceritakan peristiwa yang terjadi pada tahun 80-an.

“Tahun 80-an pernah di sekitar Kelapa Dua terjadi pembunuhan. Peristiwa itu terjadi pada malam hari. Masyarakat pada waktu itu heboh,” singkat Sutomo.

Nagi yang ingin melihat langsung Pulau Dondang dan Kelapa Dua, yang ada di wilayah Desa Kotabunan Selatan, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Hanya butuh waktu 5 menit dari jalan raya, pengunjung sudah sampai di lokasi.

Di sekeliling Pulau Dondang, banyak spot menarik yang pas untuk berfoto ria. Begitu juga di lokasi Kelapa Dua. Meski pohon kelapanya tinggal satu yang masih berdiri kokoh, lokasi Kelapa Dua sangat cocok untuk mereka yang suka berfoto dengan latar laut indah. (*)

Baca Juga :   Aktivitas Nelayan di Pesisir Boltim

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here