Oleh: Mat Rey Kartorejo

Puku 17.00 Wita, aku dan seorang teman menuju ke Desa Bulawan Dua, Kecamatan Kotabunan. Tujuan kami ke sana untuk menemui tukang jahit. Apin Dukalang, nama si tukang jahit itu.

“Ada di mana?” Pertanyaan itu ku layangkan melalui telepon genggam.

“Apin ada kaluar, tapi sadikileh dia somo pulang,” jawab perempuan di balik telepon.

Ternyata yang mengangkat telepon adalah istri apin.

Aku dan Dio Djubair akhirnya memutuskan untuk ketemu Dat Ligawa. Sebelum menemuinya, kami sedikit berputar-putar di Desa Kotabunan, Kotabunan Barat, dan Kotabunan Selatan.

Pukul 17.30, kami kemudian mampir ke rumah Dat Ligawa. Kawan kami Gazali Ligawa, ada juga di situ. Mereka berdua kakak beradik.

Motor Fino yang kami kendarai diparkir di depan warung Dat Ligawa.

INSPIRASI PELATIHAN MENULIS

Senja mulai menyapa. Diskusi pun mulai mengalir. Ditemani kopi hitam ala Gazali dan Dio Djubair.

Andri Muhama’ tiba-tiba muncul. Gazali pun mulai mengeluarkan teman kopi hitam. Lima stoples kue kering ia sajikan di waktu hampir gelap.

Utung Mamonto muncul juga. Pria yang akrab disapa Paman itu menambah suasana diskusi senja lebih berwarna.

Kami berbincang tentang momais (bahasa Mongondow yang artinya menulis).

“Bagus kalu ada waktu, torang mo bekeng pelatihan teknik menulis. Soalnya torang masih banyak jaga salah batulis.”

Perkataan ku itu mendapat respons dari teman-teman Komunitas Momais. Komunitas menulis yang kami dirikan awal tahun 2020 lalu.

Rencana itu akan kami seriusi. Biar secepatnya dapat terealisasi.

RINTIK HUJAN JELANG ADZAN BERKUMANDANG

Hari mulai gelap. Kopi hitam, teman menemukan inspirasi yang kami nikmati, hampir habis.

Aku berencana ingin kembali ke rumah. Namun, niatku itu terhambat dengan butir-butir air yang perlahan membasahi atap rumah Dat Ligawa.

Baca Juga :   Aksi Cip di Atas Motor Matic, Jarak Kotabunan-Manado Hanya Ditempuh Satu Jam Dua Menit

Kami akhirnya memutuskan untuk terus melanjutkan diskusi senja. Sedikit terbahak-bahak, kami mengeluarkan unek-unek dengan bebas.

Dua batang rokok sudah kuhabiskan. Asyik berbincang ringan, rintik hujan yang jadi penghalang mulai berhenti. Aku memutuskan untuk kembali ke rumahku yang ada di Desa Bulawan.

“Paman, sabantar jo ulang mo diskusi torang. Kita mo pulang dulu, soalnya Mama Iren mo pake motor.”

Aku kemudian berdiri dan pamit kepada teman-teman Komunitas Momais.

“Iyo sabantar jo ulang,” tutur Paman Utung.

“Oke Rey. Sabantar jo ba kopi sini,” sahut Dat Ligawa dengan logat kental Manado.

Diskusi akhirnya kami hentikan. Apalagi suara Adzan Magrib tidak lama lagi akan berkumandang di Desa Kotabunan dan Bulawan Bersatu. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here