Oleh: Matt Rey Kartorejo

Prosesi khitanan massal yang digelar PT Arafura Surya Alam (ASA) di Desa Kotabunan, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), sungguh ramai. Ruangan Puskesmas Kotabunan pun begitu riuh.

Suara tangisan dan teriakan anak-anak terdengar kencang. Bersahut-sahutan dengan pengeras suara yang tak kalah kencang memanggil peserta khitan.

“Nomor urut 5, atas nama Muhamad Islami Alola.”

Suara petugas Puskesmas terdengar di balik pengeras suara. Mendengar namanya dipanggil, tangis Alola pecah. Anak 10 tahun ini tak mau memasuki ruangan. Ia memilih duduk di lantai dan tidak memperdulikan meski namanya sudah berulang-ulang dipanggil.

Petugas tak berhenti untuk kembali memanggil nama anak dari Desa Kotabunan Selatan itu, tapi tetap ia dengan pendiriannya. Bahkan tangisnya lebih menjadi-jadi dan tetap memilih bertahan duduk di lantai. Ibunya sudah berusaha membujuk agar anak yang akrab disapa Arif ini mau disunat, namun segala upaya dari orang tuanya itu sia-sia.

Tak lama kemudian, datang aparat Desa Kotabunan Selatan. Kepala Dusun 2, Afni Ibrahim dan Sutomo Tooy yang merupakan Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan.

Kedua aparat desa ini kemudian membujuk anak dari pasangan Sapar Alola dan Hadija Moha itu, dengan harapan agar warganya dapat disunat sebab tidak dipungut biaya.

“Mari, Nak. Nanti kami kasih uang 50 ribu. Tidak sakit. Mari, Nak,” bujuk Afni Ibrahim dengan nada lembut.

Ajakan Afni itu sepertinya belum juga menuai respons. Arif tetap mengeluarkan suara tangis keras berulang-ulang.

Akhirnya para aparat desa itu kewalahan. Mereka terpaksa mengikuti kemauan anak yang baru duduk di kelas 4 SD itu dan mengganti dengan peserta yang lain.

Menurut Sutomo Tooy, peserta khitan yang diminta pihak PT ASA selaku penyelengara, setiap desa yang berada di wilayah lingkar tambang itu 5 orang. Arif yang memang tidak mau disunat, terpaksa akan diganti dengan yang lain.

Baca Juga :   Dampak Covid-19, Omset Pemilik Bengkel di Kotabunan Turun Dratis

“Sudah dibujuk tapi anak itu tidak mau, jadi diganti dengan yang lain. Sebab permintaan dari PT ASA harus lima orang tiap desa,” ujar Sutomo.

Selang beberapa menit, akhirnya nama Arif diganti dengan peserta lain. Tangisnya pun mulai redup. Ia tampak langsung berlari ke luar.

AFDAL TAK SABAR NAMANYA DIPANGGIL

Afdal Amin, anak usia 8 tahun. Ia betul-betul berbeda dengan Arif yang menangis lantaran takut disunat. Ia justru terlihat tak sabar namanya dipanggil.

Afdal mendapat nomor urut 27. Warga Desa Bulawan Dua, Kecamatan Kotabunan itu, terlihat sudah ingin sekali masuk dalam ruangan Puskesmas. Ia tak sabar menunggu giliran untuk disunat. Sedikit-sedikit Afdal menoleh ke ruangan tempat khitan. Terlihat jelas di wajahnya, tidak ada rasa takut sedikitpun.

Akhirnya apa yang Afdal tunggu-tunggu terjawab. Namanya dipanggil petugas Puskesmas.

“Nomor 27, Afdal Amin.”

Suara petugas Puskesmas seperti kabar gembira. Afdal yang mendengar, dengan tersenyum langsung memasuki ruangan tempat khitanan massal. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here