Oleh: Matt Rey Kartorejo


Selasa, 13 Juli 2021, kami menyusuri Desa Dodap, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Di dalam perkampungan, bersua seorang pria. Dari balik kaca mobil Avanza, wajahnya tampak tak muda lagi.

Dat Ligawa, teman saya, sejenak memarkir mobil. Saat kami turun, si kakek menyapa kami dengan lembut.

Hengky Mangaronda, namanya. Kakek 84 tahun ini berada di sisi jalan, tepatnya di depan kediamannya, Dusun 3 Desa Dodap Pantai, saat kami temui.

“Dari mana kalian?” Kakek itu melayangkan pertanyaan kepada kami.

“Dari Kotabunan, Pak,” jawabku dengan lembut.

Foto: Dusun 3 Dodap Pantai, Kecamatan Tutuyan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

Selang beberapa menit, si kakek mulai menceritakan tentang keberadaan dan pengalamannya di desa Dodap.

Ia menuturkan, sebelum Indonesia merdeka, dirinya sudah tinggal dan menetap di desa Dodap bersama keluarga. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini, sudah berada di desa ini sejak tahun 1942.

“Waktu zaman Jepang, saya sudah ada di sini (desa Dodap Pantai). Itu sekitar tahun 1942,” tutur Hengky.

Sebenarnya menurut Hengky, di masa itu tujuan keluarganya akan menuju ke desa Popayato, Gorontalo. Dengan harapan dapat menemukan lahan untuk berkebun. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya daerah Bolaang Mongondow ini jadi tempat tujuan.

“Dari Siau, kami rencana ke Popayato, dengan tujuan mau berkebun. Waktu itu ada yang bilang kalau di Dodap banyak lahan yang kosong, sehingga kami akhirnya memilih menetap di sini (Dodap),” ujar Hengky.

BERTAHAN DI DAERAH TIGA KEPALA KELUARGA

Ketika Hengky datang dari Siau, ke desa Dodap, kala itu hanya terdapat tiga kepala keluarga. Transportasi di masa itu sangat jarang. Namun harapan kakek tiga anak ini untuk mempunyai lahan kebun sendiri tak tergoyahkan. Ia tetap bertahan meski dibalut kesunyian.

Baca Juga :   Dokter Marzuki Abdul: Cerita Hidup dan Pengabdian

Tahun 1949, Hengky merasa terpukul saat orang tuanya dipanggil Sang Khalik. Setelah kepergian orang tuanya, ia terus berjuang demi cita-cita keluarga, yaitu mempunyai tanah sendiri.

“Waktu itu dari Siau, kedatangan kami di Dodap baru ada tiga rumah tangga. Pokoknya sunyi sekali. Tahun 1949 orang tua saya meninggal dunia. Kami tetap bertahan di sini dengan harapan bisa mempunyai tanah sendiri. Untuk hasil-hasil pertanian kami bawa ke pasar Kotabunan,” kata Hengky.

MENGUNGSI KE SIAU DI MASA PERGOLAKAN

Sambil menikmati minuman soda dan air mineral, aku terus mendengarkan cerita Hengky. Kakek tiga cucu ini berkisah bahwa pada tahun 1957, dirinya terpaksa memilih kembali ke kampung halamannya di Siau.

Ia terpaksa mengungsi ke Siau sebab pada waktu itu terjadi pergolakan Permesta. Tak terbersit di pikirannya untuk meninggalkan desa Dodap, namun di masa itu sangat sulit untuk mencari biaya hidup.

Keluarganya pun terpaksa memilih kembali ke Siau.

Sepuluh tahun kemudian, Hengky kembali lagi menginjakkan kaki di daratan besar Celebes, Bumi Totabuan.

“Waktu Permesta tahun 1957, kami lari ke Siau untuk mengais rejeki. Tahun 1968, kami balik lagi sampai sekarang,” ujar Hengky.

CITA-CITA TERCAPAI

Mimpi Hengky dan keluarga untuk mendapatkan lahan perkebunan sendiri akhirnya tercapai. Buah dari perjuangan selama puluhan tahun mulai dirasakan kakek yang sudah mempunyai 8 cece ini.

Ia sekarang tinggal menunggu hasil panen pala dan tanaman lain yang ia tanam. Ia masih sering ke kebun, walau hanya sekedar melihat tanaman yang ia tanam.

Hari ini kakek Hengky sangat bersyukur. Ia kini telah memiliki banyak lahan perkebunan sendiri.

TETAP BERKEBUN DI USIA SENJA

Usia Hengky yang sudah terbilang sangat tua, tak membuat ia harus berdiam diri di rumah seperti kebanyakan orang. Kondisi fisiknya saat ini masih sangat kuat. Hengky mengaku setiap akhir pekan dapat menyempatkan diri melihat kebunnya.

Baca Juga :   Kakek Pencari Botol Plastik

Di kebun ia masih sempat membersihkan rumput-rumput liar yang mengganggu tanaman tahunannya.

“Saya setiap minggu satu kali ke kebun. Meski tidak seperti dulu lagi tenaga saya, tapi saya tetap membersihkan rumput-rumput di sekitar tanaman. Meski tidak kuat lagi, asalkan saya bergerak karena sudah terbiasa berkebun,” ungkapnya dengan tersenyum. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here