TONDANO, TotabuanExpress.co.id – Sederet persoalan yang kini mendera wilayah kabupaten Minahasa dan kota Tomohon, diseriusi. Mulai dari soal perampasan ruang hidup, persoalan agraria, hak asasi manusia (HAM), masyarakat adat, lingkungan hidup, dikritisi gabungan aktivis pemuda dan mahasiswa.

Konsolidasi gerakan masyarakat sipil ini digelar di Kasuang Spritual Center (KSC) Tondano, Selasa (11/5) hingga Rabu (12/5).

Dari konsolidasi tersebut tercetuslah nama Koalisi Orang Gunung (KOG). Sejumlah organisasi mahasiswa, organisasi kepemudaan di Minahasa dan Tomohon, komunitas kampung, komunitas budaya, komunitas seni, dan organisasi non pemerintah (non government organization) menyatu dalam gerakan tersebut.

“Ada beberapa hal yang menjadi tujuan dari konsolidasi ini. Pertama, mengkonsolidasikan gerakan yang sistematis dan masif, menyatukan persepsi dan arah gerakan masyarakat sipil, membangun jaringan gerakan masyarakat sipil yang berpihak pada kaum tertindas,” kata Juan Ratu, salah satu aktivis yang terlibat dalam konsolidasi tersebut, Jumat (14/5/2021).

“Selanjutnya untuk menyatukan gerakan intelektual masyarakat yang produktif, menyadarkan masyarakat soal pentingnya solidaritas gerakan, mengawal terbentuknya produk undang-undang yang berpihak pada masyarakat, menyusun rencana, strategi dan taktik gerakan, serta membangun konsistensi gerakan yang berkelanjutan,” jelasnya.

Ratu juga menjelaskan lebih lanjut persoalan-persoalan yang diangkat. Di antaranya kasus agraria di Kelelondey Langowan, Kalasey Dua, Uluna Tondano, dan cagar budaya di kaki Gunung Lokon.

“Kita juga komit akan mengawal produk hukum di daerah, khususnya Minahasa dan Tomohon. Seperti Rancangan Peraturan Daerah (Perda) Masyarakat Adat dan Perda yang dirasa diskriminatif bagi kaum rentan,” tandas penggerak KOG di Minahasa ini.

Sementara, penggerak KOG dari kota Tomohon, Stefanus Goni, mengatakan koalisi ini hadir sebagai bentuk rasa ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah saat ini, di mana lingkungan dan ruang hidup masyarakat mulai tidak diperhatikan.
“Kita hidup seharusnya membangun hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Saat ini pemerintah mengajarkan kita untuk mulai merusak alam tempat tinggal kita. Kurang kehadiran pemerintah daerah di tengah-tengah masyarakat. Apalagi di daerah-daerah yang terkonflik, membuat posisi pemerintah tidak terlihat menjadi tempat mendengar dan ujung tombak rakyat dalam kesejahteraan,” keluh Goni.
Para aktivis yang hadir sepakat, KOG adalah bentuk gerakan alternatif. Wadah ini sebagai alarm untuk pemerintah dan negara agar bekerja bagi rakyatnya. Juga sebagai alternatif bagi gerakan pemuda dan mahasiswa yang terlena dengan persoalan elitis dan sengaja tidak mau memihak pada rakyat dan tidak berani bersikap ekologis.

Baca Juga :   Pemerintah dan Masyarakat Kakaskasen Satu Donorkan Darah 

Para penggerak organisasi dan komunitas di KOG menyesalkan, persoalan sudah di depan mata, sudah terjadi perampasan ruang hidup yang sistematis lewat kebijakan pemerintah dan keberpihakan pemerintah kepada kapitalis.

Ditegaskan, wadah ini terbuka dan menjadi ruang belajar serta membangun jaringan bagi setiap semesta yang ingin berjuang. (Etzar Frangky Tulung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here