Foto: Rumah sederhana milik keluarga Hamida Limpong yang terletak di Desa Bulawan, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Provinsi Sulawesi Utata (Sulut).

Oleh Matt Rey Kartorejo


Ada sebuah rumah sederhana di pesisir Bolaang Mongodow Timur (Boltim). Rumah itu menghadap langsung ke arah Pulau Kumeke. Letaknya di Dusun Satu, Desa Bulawan, Kecamatan Kotabunan, Rumah itu dihuni oleh sepasang suami istri dan 5 anak mereka.

Selasa 23 Februari 2021, cuaca begitu tak bersahabat. Sore itu, hujan mulai membasahi pesisir Kabupaten Boltim. Memaksa beberapa jurnalis harus mencari tempat berteduh. Rumah sederhana itu, menjadi tempat mereka menghidar dari hujan.

Seorang perempuan, tiba-tiba keluar dari rumah itu. Ia lantas menawarkan para pewarta yang berada di luar untuk masuk ke dalam.

“Mari masuk” ucap Hamida Limpong, menyapa para pewarta.

Para kuli tinta itu pun masuk ke dalam rumahnya.

Hamida Limpong

Di dalam rumah, terjadi perbicangan ringan dengan pemilik rumah. Hamida kemudian menceritakan keadaan mereka ketika cuaca ekstrim.

Ia kini berusia 43 tahun. Suaminya sehari-hari, berprofesi sebagai nelayan. Jika cuaca tak bersahabat, mereka sangat merasakan susahnya hidup. Kebutuhan sehari-hari terkadang tak cukup. Selain menyekolahkan dua orang anaknya, keluarganya harus berjuang sekuat tenaga demi buah hati mereka yang masih kanak-kanak.

Suami Hamida tetap berjuang, keluar dari himpitan kemiskinan. Setiap hari ia menaklukkan tingginya gelombang laut demi mengisi kebutuhan dapur.

“Tetap paitua mo ka lao walaupun musim ombak deng angin. Demi kehidupan tetap ka lao. Kalau nda mo ka lao mo makan apa kasiang,” ujar Limpong. (Tetap suami melaut walaupun ombak dan angin. Demi hidup, tetap melaut. Kalau tidak melaut, mau makan apa).

Aktivitas suaminya sebagai nelayan kadang tak membuahkan hasil. Ia pun harus pulang sampai pukul 12.00 Wita. Biasanya, pagi hari ia sudah pulang.

Baca Juga :   Sehari Muhajirin Bisa Menganyam Lima Kurungan Ayam Bambu

“Biasa kalau mereka melaut, pulang nanti pagi kalau tidaka ada ikan, biasanya bertahan sampai siang” tutur Limpong.

Hasil tangkapan suaminya, dibawa Hamida ke pasar untuk di jual. Tak ada tranportasi, Hamida  hanya mengandalkan langka kakinya untuk menjemput rezeki.

“Kalau ada hasil, pada pukul delapan pagi saya yang membawa ikan ke pasar kadang dua tali dan kadang sampai 7 tali ikan,” ujar Hamida.

Penghasilan yang sangat terbatas itu, membuatnya harus pandai membelanjakan uang hasil jualan ikan. Tujuh tali ikan yang dijual, ia mendapatkan uang sekitar 75 sampai 100 ribu rupiah. Uang tersebut ia belanjakan untuk keperluan dapur. Sebagian lagi untuk keperluan suaminya saat melaut.

“Ongkos saat melaut ada kalanya sampai seratus ribu, jadi kadang tidak cukup,” ungkap Hamida.

Rumah milik keluarganya, masih meminjam tanah orang lain. Satu harapan besar mereka yakni bisa punya tanah sendiri. Namun, keadaan yang ada membuat mereka tetap ikhlas dan terus berusaha.

Belum lama ini beban keluarga Hamida sedikit berkurang. Keluarganya mendapat bantuan mesin katiting dari Pemerintah Daerah (Pemda).

“Alhamdulillah kami dapat bantuan mesin Katinting dari pemerintah. Bantuan itu sedikit meringankan beban kami,” sebutnya.

Hidup dan kehidupan dijalani keluarga Hamida dengan penuh keikhlasan. Keyakinan tetap tertanam dalam hati. Mereka yakin suatu saat Tuhan pasti akan memberikan riski-Nya.

Kebahagiaan terlihat jelas di raut wajah Hamida Limpong saat ia menuturkan bahwa dua orang anaknya telah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Umum (SMA).

“Lima orang anak saya. dua sudah tamat SMA. Ini jadi satu kebanggaan bagi kami keluarga,” tukas Hamida Limpong. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here