Oleh: Matt Rey Kartorejo


Coba tengok ban motor kamu, sedikit saja tersentuh batu tajam pasti pecah,” kata sahabatku Sunadio Djubair.

Aku pun langsung melihat kondisi ban motor yang biasa saya kendarai, dan ternyata harus diganti karena sudah botak alias gundul. Senin, 5 Oktober, aku dan Dio menuju bengkel di Desa Kotabunan Selatan. Sesampai di bengkel, aku bertanya kepada salah satu montir.

“Ada ban motor yang NMAX punya?” tanya ku. “Yah, yang punya bengkel tidak ada, lagi keluar. Coba di bengkel yang di Tutuyan,” jawab montir itu.
Kami pun langsung menuju ke Ibukota Bolaang Mongondow Timur pada pukul 10.00 Wita. Di perjalanan menuju Desa Tutuyan, perasaan khawatir terus menghantui. Alhamdulillah selang beberapa menit, kami tiba di bengkel Desa Tutuyan II.

“Ada ban motor yang NMAX punya?” tanya ku. “Ada. 325 ribu harganya,” jawab Ido, pemilik bengkel.

Aku langsung memarkirkan motorku dan duduk di tempat duduk yang terbuat dari papan. Montir langsung mengambil peralatannya dan membuka ban motor.

“Sudah berapa lama ban motor ini,” tanya montir itu kepada ku.
“Sudah satu tahun dua bulan,” jawab ku sembari mengambil minuman dingin.

Mendengar jawaban itu, seorang pria paru baya menghampiriku dan berkata, “Lama juga ban motor kamu ini.”

Ia kemudian bercerita dengan ku. Dari caranya, sepertinya orang ini pintar bergaul dan mudah beradaptasi. Hanya beberapa menit kami berbincang, rasanya seperti sudah kenal lama.

“Ade kerja dimana?” tanya pria itu.
“Kalau saya wartawan,” jawab ku dengan mata yang tetap awas mengamati montir yang lagi bekerja.

Pria itu pun melanjutkan pertanyaannya. Kali ini bola mengarah ke isu politik. Ia bertanya kalau dari tiga kandidat yang bertarung di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Boltim, siapa yang elektabilitasnya di atas?
Aku menatapnya dan tersenyum. Tiba-tiba seorang yang duduk di samping saya menjawab jika Amalia yang paling disukai. Mendengar jawaban itu, ia mendekatkan kepalanya dan berbisik bahwa ia juga memilih Amalia di Pilbup Boltim pada tanggal 9 Desember nanti.

Baca Juga :   Buffon dan Akselerasinya di Bawah Mistar Gawang

“Om juga pilih Ama. Om melihat Ama ini karakternya sama dengan Bapak Bupati Sehan Landjar,” kata pria yang bernama Pae Lupa, warga Desa Dodap, Kecamatan Tutuyan itu.
Mata orang-orang di sekeliling bengkel tertuju kepadaku dan Pae Lupa. Melihat dari raut wajah dan caranya bertutur, sepertinya pria ini tidak berbohong. Expresinya begitu meyakinkan. Aku pun sedikit menggali informasi terkait tingkat kesukaan masyarakat terhadap pasangan nomor urut 1 di Desa Dodap.

“Di Desa Dodap sendiri bagaimana Amalia dan Uyun, apakah banyak yang suka atas kedua pasangan ini?” tanya ku.
Pria yang berprofesi sebagai petani ini langsung bereaksi dan menjawab pertanyaanku.

“Di Dodap banyak sekali bendera para kandidat, tapi jangan hanya melihat banyaknya bendera yang terpasang di depan jalan. Banyak yang diam tapi mereka memilih Amalia. Kalau saya sendiri, saya memilih Amalia itu dengan kata hati saya. Kalau hanya memilih karena uang untuk beli makan, kata kasarnya kami juga biar cuman makan ubi bisa makan. Itu kata kasarnya, tapi kami tetap memilih Amalia,” tuturnya.

Menurutnya, di Desa Dodap, calon bupati jagoannya dinilai publik pintar beradaptasi. Makanya, meski ada yang membujuk sekalipun itu dengan uang, tetap akan kalah.

“Amalia orangnya pintar beradaptasi dengan siapapun, makanya sampai hari ini banyak yang suka dengannya. Saya dan keluarga tidak akan pindah ke lain, tetap memilih Amalia. Itu kata hati saya,” sebut Pae Lupa.
Itu kata hati yang diutarakan pria pekerja keras ini.

“Ketika kita digerakkan oleh hati kita, tidak ada kekuatan di bumi ini yang dapat menghentikan kita dari upaya mencapai apa yang kita inginkan dalam hidup kita. Maka, ikuti kata hatimu, dan hidup akan mengikuti,”. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here