Membelah Hutan Puluhan Kilometer Demi Obat Herbal

Oleh: Matt Rey Kartorejo


Seorang pria paruh baya asal Bolaang Mongondow Timur (Boltim), mulai menghebohkan warga. Hasil racikan obat dari bahan-bahan alami yang dibuatnya, jadi pemantik. Kian hari, semakin banyak masyarakat yang sakit dibuatnya takjub.

Obat herbal kini jadi tren. Para pengejar kesembuhan terus berlomba-lomba untuk menemukan olahan alami itu untuk mengatasi persoalan kesehatan yang dihadapi. Keunggulannya, para pengguna relatif bisa menikmati tanpa efek samping yang justru dianggap berbahaya seperti obat sintetik.

Nilai kurang dari obat yang terbuat dari bahan-bahan alami ini adalah reaksi dan penyembuhannnya yang memakan waktu cukup lama. Kadang, penggunanya diguncang rasa tidak sabaran yang sangat untuk segera sembuh.

Tetapi, cerita itu sepertinya tidak berlaku bagi obat herbal yang dibuat Marjan Mudul (52). Pria asal Desa Bulawan Satu, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Boltim, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Testimoni masyarakat yang pernah menikmati sentuhan bahan herbal racikan Marjan, kelebihan obat yang dibuatnya mampu mengatasi bermacam penyakit dengan waktu sangat cepat.

Teranyar, banyak orang tercengang. Mereka melihat langsung ada pasien asal daerah Minahasa, yang tubuhnya mengalami mati rasa. Setelah minum ramuan obat herbal itu, reaksi pada tubuhnya luar biasa. Langsung ada perubahan, bahkan kini sudah sembuh total.

Untuk mendapatkan obat ini, butuh waktu dan pengorbanan sebab hanya bisa ditemukan di hutan-hutan besar. Hal ini tentu satu-satunya bisa dilakukan orang yang benar-benar ikhlas dan tanpa pamrih.

MENEMUKAN BAHAN OBAT DI HUTAN-HUTAN

Menemukan bahan-bahan dasar racikan obat herbal, sepertinya bukan perkara mudah bagi Marjan. Sosok yang biasa disapa Ajong ini, harus berjuang keras lebih dahulu.

Demi membantu orang banyak, ia rela berjalan puluhan kilo meter untuk mengambil ramuan obat tradisional di hutan-hutan besar. Hal ini ia lakukan tanpa mengharapkan imbalan sebab niatnya hanya untuk membantu menyembuhkan penyakit bagi orang banyak.

Baca Juga :   Hidup dari laut, Hidup untuk anak-anak

Biasanya, dengan berjalan kaki ia menyusuri hutan belantara demi mengambil kulit-kulit kayu tertentu. Bahan-bahan penting bagi ramuanya. Walau demikian, hatinya tetap senang. Apalagi kalau obat yang ia berikan kepada seseorang bisa memberikan dampak yang diharapkan. Melihat orang yang sembuh penyakitnya, diakui sangat membahagiakan dirinya.

“Nouman Ali Khan pernah berkata, ketika kamu berada dalam posisi untuk membantu seseorang, berbahagialah. Karena Allah SWT menjawab doa orang tersebut melalui dirimu. Karena itu, saya sangat senang jika orang yang sakit bisa sembuh karena obat yang saya kasih,” ucap Ajong.

MEMEGANG RAHASIA WARISAN LELUHUR

Awalnya, tak pernah hadir dalam benak Ajong untuk menyembuhkan orang sakit. Ia sama sekali tidak tertarik dengan obat-obat dari kulit pohon dan akar-akaran.

Namun kisah itu berubah ketika ia membaca buku peninggalan nenek moyangnya. Perlahan ada rasa penasaran yang muncul. Ia pun akhirnya memutuskan untuk mulai mencobanya.

Rasa penasaran itu yang mendorong dia mau berjalan kaki puluhan kilo meter hanya untuk mencari ramuan obat yang tertulis di dalam buku tersebut. Terkadang, kalau ada ongkos untuk bayar ojek, ia naik ojek sampai ke Desa Bukaka, Kecamatan Kotabunan. Tapi kalau tidak ada, terpaksa ia berjalan kaki.

Belakangan, motivasinya untuk berjalan menyusuri hutan kian bertambah. Hal itu ia lakukan demi para pasien yang memerlukan obat trdisional buatannya.

“Pertama, saya tidak tertarik dengan obat-obat herbal. Tapi waktu saya membaca buku peninggalan Uwa’ (nenek moyang) saya, saya mulai mencari jenis kayu dan akar-akar yang tertulis di dalam buku itu,” ungkap Ajong.

Dia menceritakan, ketika itu ia bercanda dengan temannya yang bekerja di Kantor Desa Bulawan Satu. Kebetulan, perut temannya mulai membesar. Pemandangan itu membuat Ajong makin tertarik untuk menyembuhkan sahabatnya.

“Saya akan mengobati penyakitmu,” kata Ajong kepada sahabatnya dengan nada sedikit bercanda.

Benar saja, mendengar ucapan Ajong, temannya hanya tertawa dan tidak menanggapinya.

Baca Juga :   I Gusti Ngurah Rai, Komandan Yang Menghargai Anak Buahnya

Tapi, diam-diam Ajong mengambil ramuan obat yang sudah direbusnya dan diberikan ke sahabatnya itu. Saat temannya meminum obat tersebut, selang empat jam, reaksinya mulai terlihat. Temannya mulai sering buang air besar.

Saat merasakan ada perubahan, teman Ajong pun mulai serius mengkonsumsi obat itu. Perutnya yang tadinya besar, perlahan mulai normal. Akhirnya penyakit yang diderita teman Ajong mulai sembuh.

“Bahkan, ada pasien yang datang sudah perlamen (bagian tubuh tertentu menjadi kaku akibat stroke), ada yang kencing darah, asam lambung, gondok, kista, ginjal, darah tinggi dan gejala polip, semua sembuh dengan obat saya,” kata Ajong dengan wajah sumringah.

SATU JENIS BAHAN RAMUAN SULIT DICARI

Aktivitas untuk mencari bahan-bahan ramuan obat telah menjadi rutinitas bagi Ajong. Itu sebabnya tak lagi terasa berat. Namun, diakui ada satu jenis bahan yang sering membuatnya sedikit berbeban karena sulit ditemukan.

Waktunya hanya satu hari untuk menemukan semua bahan yang dibutuhkannya. Itu ditempuh hanya dengan jalan kaki. Ajong sendiri memang tidak tahu mengemudikan sepeda motor.

Satu macam obat sangat sulit dicari. Sementara, kasiat dan perannya sangat penting bagi obat herbal yang dibuatnya. Bahan itu untuk menghilangkan rasa pahit. Ia hanya akan ditemukan di hutan-hutan besar.

“Yang menjadi andalan ramuan saya ini ada tujuh tapi hanya satu macam yang sulit dicari. Itu khasiatnya menghilangkan rasa pahit dan bisa ditemukan di perkebunan Bukaka dan di belakang gunung Tongsile,” jelasnya.

Bapak tiga anak ini menceritakan, obat yang ia ramu ada 37 jenis kayu dan puluhan jenis akar-akaran. Alat yang dipakai untuk merebus bahan-bahannya butuh dua wadah yang berukuran besar, karena banyak sekali orang yang datang mengambil obat yang sudah ia rebus.

Meski kerja melayani pasien baru ia jalani selama 8 bulan, namun sudah banyak masyarakat yang mengetahui tentang kasiat obat dari Ajong Mudul. Sejak bulan April 2019, tercatat ratusan orang yang sembuh penyakitnya karena mengkonsumsi obat yang dibuatnya.

Baca Juga :   Aktivitas Nelayan di Pesisir Boltim

“Saya tidak mau takabur, tapi selama saya masih melihat dengan mata kepala sendiri, insya Allah penyakit orang yang minum obat saya akan sembuh,” ungkapnya dengan penuh keyakinan.

Pasien yang datang untuk mengambil obat rebusan Ajong bukan hanya dari Boltim, tapi banyak yang datang dari daerah Minahasa. Mulai dari Desa Rumoong, Kiawa, Tombasian, Tareran, Morea dan Tombatu.

“Mereka datang setiap minggu. Setelah pulang, mereka saya berikan per orang tiga botol ukuran botol air mineral besar obat rebus. Sebab yang datang banyak sekali sehingga harus dibagi biar semuanya dapat bagian,” tutur Ajong.

Untuk proses mengambil ramuan obat, itu dilakukannya setiap empat hari sekali dan targetnya enam kali direbus. Untuk satu belanga besar yang direbus, mendapat 17 botol air mineral ukuran besar sehingga ia memakai dua belanga karena banyak orang yang datang mengambil obat miliknya.

“Orang yang datang mengambil obat, saya tidak minta bayar sebab saya ikhlas membantu orang. Jika ada yang memberikan sedikit uang, itu hanya saya belikan gas untuk proses merebus obat,” ungkap Ajong, ketika ditanya apakah ia memberikan harga khusus untuk obat yang dibuatnya.

Dirinya berharap, jika ada yang mau membantunya, ia hanya butuh alat untuk menampung obat yang sudah selesai direbus biar hangat terus. Selain itu, ia butuh belanga berukuran besar supaya obat rebusan lebih banyak lagi yang bisa direbus setiap hari.

“Orang yang datang mo ba ambe obat rubus, kita nda minta bayar. Kita kase setiap orang datang satu botol air mineral besar. Kalu yang dari jao macam dari daerah Minahasa, itu kita kase tiga botol per orang. Kita cuman berharap ada yang mo ba bantu pa kita biar cuman dorang mo kase blanga basar for mo ba rubus akang obat,” ucapnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here